Manisnya Kuliner
Tape singkong merupakan salah satu jenis makanan tradisional fermentasi dari Indonesia yang berasal dari singkong (ubi kayu) yang dikukus atau direbus, kemudian difermentasi menggunakan ragi khusus.
Di daerah Jawa Barat tape singkong dikenal sebagai Peuyeum. Asal khasnya: Desa Cimenyan, Kabupaten Bandung — masyarakat setempat pada masa penjajahan menggunakan singkong sebagai makanan pengganti ketika nasi sulit diperoleh.
Belum diketahui catatan sejarah tertulis yang sangat tertata mengenai kapan persisnya tape singkong mulai diproduksi pertama kali — ada keterangan bahwa metode pengawetan dan fermentasi singkong telah ada sejak abad ke-19.
Di berbagai wilayah Indonesia, makanan fermentasi berbasis pati/singkong/beras seperti tape atau tapai merupakan bagian dari tradisi Austronesia (budaya Nusantara) yang mempergunakan fermentasi sebagai cara mengawetkan dan menyajikan pangan lokal.
Fakta Unik
Tape singkong memang mengandung sedikit alkohol sebagai hasil fermentasi oleh mikro-organisme (meskipun sangat rendah, biasanya <1 %).
Karena proses fermentasinya, tape singkong bisa memiliki efek‐probiotik dan serat yang bagus untuk pencernaan.
Tekstur dan rasa tape bisa sangat berbeda antar daerah: misalnya tape singkong di Jawa Tengah/Jawa Timur cenderung lembek dan lebih berair, sedangkan peuyeum di Jawa Barat (singkong fermentasi) lebih padat dan khas sebagai oleh-oleh.
Tape singkong telah menjadi bagian dari identitas lokal di beberapa daerah — contohnya peuyeum menjadi oleh-oleh khas Bandung.
Mitos-fakta: Ada mitos bahwa tape bisa membuat mabuk atau berbahaya untuk ibu hamil, namun fakta menunjukkan kadar alkohol sangat rendah dan jika dibuat serta disimpan dengan benar maka aman.
Catatan Penting
Walau banyak manfaat yang disebutkan (pencernaan, energi, dll), tetap perlu konsumsi dengan wajar karena kandungan gula dan karbohidrat cukup tinggi.
Beginilah Proses Pembuatannya.
1. Persiapan bahan
Bahan utama: singkong
Bahan tambahan: ragi tape (mengandung mikroorganisme fermentasi seperti Saccharomyces cerevisiae dan Amylomyces rouxii).
2. Pemasakan
Tape singkong: singkong dikukus sampai empuk, lalu didinginkan.
Tujuannya agar bahan matang tapi tidak panas saat ditaburi ragi (karena panas bisa membunuh mikroba fermentasi).
3. Pemberian ragi
Setelah suhu bahan turun ke hangat (sekitar suhu tubuh), taburkan ragi tape secara merata.
Aduk perlahan agar ragi tercampur rata tanpa menghancurkan bahan.
4. Fermentasi
Masukkan bahan yang sudah diberi ragi ke dalam wadah tertutup (biasanya daun pisang, wadah kaca, atau plastik).
Simpan di tempat hangat, sekitar 2–3 hari untuk tape singkong dan 3–5 hari untuk tape ketan.
Selama proses ini, mikroba mengubah pati menjadi gula dan alkohol ringan, menghasilkan rasa manis dan aroma khas tape.
5. Hasil akhir
Tape yang sudah matang akan terasa manis, lembut, sedikit berair, dan beraroma khas fermentasi.
Jika terlalu lama difermentasi, rasanya bisa terlalu asam atau keras.
Nilai Gizi
Kandungan per ~100 gram.Menurut berbagai sumber:
- Energi: ~ 169 kkal.
- Karbohidrat: ~ 40,2 g.
- Protein: ~ 1,4 g.
- Lemak: ~ 0,3 g.
- Serat pangan: ~ 2,0 g.
- Kalsium: ~ 21 mg.
- Fosfor: ~ 34 mg.
- Vitamin C: ~ 9 mg.
Selain itu, ada catatan bahwa nilai bisa sedikit berbeda tergantung bahan baku singkong, lama fermentasi, dan proses pengolahan.
Catatan
Karena karbohidratnya cukup tinggi (≈ 40 g per 100 g), tape singkong bisa jadi sumber energi yang bagus.
Lemaknya sangat rendah → bisa ditonjolkan sebagai camilan dengan lemak minimal.
Nilai protein relatif rendah → meskipun bukan “sumber protein utama”, tape punya keunggulan lain (fermentasi, probiotik, budaya).
Karena nilai gizi tergolong sederhana, penting untuk menyampaikan bahwa manfaat bukan hanya dari “nutrisi besar” tapi juga dari proses fermentasi dan kandungan mikro-nutrien tambahan (vitamin B kompleks, probiotik) yang tidak selalu tercatat di data standar.
Olahan Tape
Tape singkong bisa diolah jadi berbagai makanan dan minuman! Setelah jadi, tape bisa dimakan langsung atau diolah lagi jadi variasi hidangan manis maupun gurih. Sebagai berikut...
1. Tape Goreng
Tape dibalut tepung terigu cair lalu digoreng hingga keemasan.
Rasanya manis legit di dalam dan renyah di luar.
Cocok jadi camilan sore atau teman teh.
2. Bolu Tape Singkong
Tape dihaluskan dan dicampur dalam adonan bolu.
Teksturnya lembut, wangi khas tape, dan tidak perlu banyak gula tambahan.
Populer di Bandung dan Jawa Tengah.
3. Kue Lapis Tape
Lapisan adonan tepung beras atau sagu disusun bergantian dengan tape halus.
Dihasilkan kue legit dengan aroma fermentasi yang khas.
4. Es Tape / Es Cendol Tape
Tape dijadikan topping pada es cendol, es campur, atau es doger.
Memberi rasa manis alami dan aroma khas tape yang bikin segar.
5. Smoothie atau Milkshake Tape
Tape diblender dengan susu, es batu, dan sedikit madu.
Hasilnya creamy, segar, dan punya cita rasa tropis khas Indonesia.
6. Donat Tape
Tape halus dicampur dalam adonan donat → hasilnya empuk dan lebih beraroma.
Banyak dijual di toko kue modern karena rasanya unik.
7. Roti atau Puding Tape
Tape bisa dijadikan campuran dalam roti manis, pudding, atau pie isi tape.
Memberi rasa manis alami dan tekstur lembut pada roti.
8. Fermentasi Lanjutan (Minuman tradisional)
Di beberapa daerah, tape bisa dijadikan bahan dasar minuman beralkohol ringan tradisional seperti brem (Jawa) atau tuak manis (Sumatra).
Tapi ini hanya dalam konteks budaya, tidak umum untuk konsumsi harian.
Dan masih banyak lagi. Tape singkong terbilang fleksibel — bisa jadi camilan sederhana sampai bahan dasar dessert modern
Jenis-Jenis (Selain Tape Singkong)
1. Tape Ketan Putih
Terbuat dari beras ketan putih yang dikukus, diberi ragi, lalu difermentasi 3–5 hari.
Rasanya manis, sedikit asam, dan lembut.
Banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sering disajikan dalam wadah daun pisang atau cup plastik kecil.
Kadang jadi bahan wedang tape, es tape ketan, atau tape goreng.
2. Tape Ketan Hitam
Terbuat dari beras ketan hitam.
Warnanya ungu tua kehitaman dengan aroma khas fermentasi.
Teksturnya lebih lembut dan rasa manisnya lebih kuat dibanding ketan putih.
Populer di Yogyakarta, Jawa Barat, dan Bali.
Sering dipakai untuk topping es krim, campuran bubur sumsum, atau kue tradisional.
3. Peuyeum (Tape Khas Sunda)
Terbuat dari singkong, tapi proses pengeringannya lebih lama sehingga teksturnya padat dan kering (tidak berair seperti tape singkong biasa).
Asal: Bandung dan Cimenyan (Jawa Barat).
Ciri khasnya: dijual dengan cara digantung, beraroma manis tajam, bisa dimakan langsung atau digoreng.
4. Tape Ketan Hijau
Varian dari tape ketan putih, tapi menggunakan pewarna alami daun suji atau pandan sehingga warnanya hijau cerah.
Populer di Yogyakarta dan Jawa Tengah, terutama saat acara hajatan atau upacara adat.
Memiliki aroma harum dan tampilan menarik.
5. Tape Pulut (Sumatra)
“Pulut” berarti ketan dalam bahasa daerah Sumatra.
Tape pulut biasanya dibuat dari beras ketan putih atau hitam, disajikan dalam wadah kecil dari daun pisang, disebut tapai pulut di Riau, Sumatra Utara, dan Aceh.
Rasanya mirip tape ketan Jawa, tetapi teksturnya lebih lembek dan kadar cairannya lebih banyak.
6. Tape Ubi Jalar (Jarang tapi unik)
Terbuat dari ubi jalar (kentang manis) yang dikukus dan diberi ragi.
Rasanya lebih lembut dan manis alami karena ubi punya kadar gula lebih tinggi daripada singkong.
Masih jarang ditemui, tapi beberapa daerah mencoba membuat inovasi ini untuk camilan sehat fermentasi.
Proses umum tape
Semua tape (singkong, ketan putih, ketan hitam, dll.) dibuat melalui proses:
1. Bahan utama dimasak dulu → biasanya dikukus sampai matang dan empuk.
2. Didinginkan hingga hangat, supaya ragi tidak mati karena panas.
3. Diberi ragi tape (mengandung jamur dan ragi seperti Amylomyces rouxii & Saccharomyces cerevisiae).
4. Difermentasi di tempat tertutup selama beberapa hari.
❓ FAQ Tape Singkong
1. Apakah tape singkong mengandung alkohol?
Ya, tape singkong mengandung alkohol dalam jumlah sangat kecil (biasanya < 1%). Alkohol ini terbentuk alami dari proses fermentasi gula oleh ragi. Jumlahnya terlalu rendah untuk menyebabkan efek mabuk.
2. Apakah tape singkong bisa berbahaya jika difermentasi terlalu lama?
Bisa, jika fermentasi melebihi 5–7 hari, kadar alkoholnya bisa meningkat dan rasanya menjadi terlalu asam atau pahit. Selain itu, jika prosesnya tidak higienis, bisa muncul jamur berbahaya atau kontaminasi bakteri.
3. Apakah tape singkong memiliki efek samping?
Tape singkong aman dikonsumsi dalam jumlah wajar. Namun:
- Terlalu banyak bisa menyebabkan perut kembung akibat gas fermentasi.
- Karena kadar gulanya tinggi, penderita diabetes sebaiknya membatasi konsumsi.
- Tape yang basi atau berjamur tidak boleh dimakan, karena bisa menyebabkan gangguan pencernaan.
4. Apa manfaat tape singkong bagi tubuh?
Beberapa manfaat yang terbukti:
- Mengandung probiotik alami yang baik untuk pencernaan.
- Menyediakan energi cepat dari gula hasil fermentasi.
- Mengandung vitamin B kompleks dan zat gizi hasil aktivitas mikroba.
- Dapat membantu meningkatkan nafsu makan.
5. Apakah tape singkong aman untuk ibu hamil?
Dalam jumlah kecil dan dibuat secara higienis, aman. Kadar alkoholnya sangat rendah dan cepat menguap. Namun tetap disarankan tidak berlebihan, terutama jika belum yakin kebersihannya.
6. Mengapa tape singkong terasa manis dan sedikit asam?
Karena enzim dari ragi mengubah pati singkong menjadi gula dan alkohol. Gula memberi rasa manis, sedangkan sedikit alkohol dan asam organik memberi rasa asam segar khas tape.
7. Berapa lama tape bisa disimpan?
Suhu ruang: 2–3 hari.
Kulkas: hingga 1 minggu.
Lebih dari itu biasanya tekstur dan rasanya berubah, menandakan fermentasi berlanjut terlalu lama.
8. Apa bedanya tape singkong dan peuyeum?
Secara bahan sama-sama dari singkong, tapi:
- Tape singkong (Jawa Tengah/Timur): lembek, manis, dan berair.
- Peuyeum (Jawa Barat): lebih padat dan kering, biasanya dijual sebagai oleh-oleh khas Bandung.


Komentar
Posting Komentar